Kumpulan Herbal Tradisional Indonesia

mari lebih arif dalam memanfaatkan kekayaan herbal Indonesia

Pegagan: Gulma Makanan Otak May 26, 2010

Filed under: Herbal untuk otak — kembalikeherbal @ 1:31 am
Tags: , , , , ,

Pegagan (Source: http://herbal-creation.com)

Reputasinya sebagai tanaman pengganggu membuatnya kerap dipandang sebelah mata. Tak disangka ia berkhasiat obat. Minum air rebusannya mampu meningkatkan kecerdasan otak. Dialah pegagang, ginko biloba-nya Indonesia.

Sejak zaman Sansekerta, pegagan telah digunakan untuk mengobati berbagai penyakit, seperti gangguan kulit, syaraf, dan memperbaiki peredaran darah. Ribuan tahun berlalu, nama Centella asiatica itukian mencorong. Embel-embel asiatica di belakang nama genus mengindikasikan pegagan berasal dari Benua Asia. Sampai saat ini, daun kaki kuda itu masih dipercaya untuk mengobati berbagai penyakit. Tidak hanya di Asia, tapi sudah menjelajah ke Eropa bahkan Amerika.

Berbagai penelitian membuktikan khasiat pegagan sebagai panasea. Salah satu khasiat yang paling banyak diteliti adalah menyangkut kecerdasan. Maklum saja, sudah sejak lama ia dipercaya mampu meningkatkan kecerdasan otak. Penelitian terbaru di India bahkan membuktikan, keluarga Umbelliferae itu juga berguna bagi anak yang mengalami keterbelakangan mental.

Meningkatkan IQ

Penelitian yang dilakukan oleh Prof Veena Kalra, Hilna Zamir, Pandey RM, dan Kala Suhas Kulkarni, dari Research and Development Center, The Himalaya Drug Company, Makali, Bangalore, India itu bahkan sudah memasuki tahap uji klinis pada 2002 dilakukan pada 60 anak usia sekolah–umur 6–12 tahun–yang menderita Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD). ADHD adalah kelainan otak yang umum terjadi pada anak-anak, yang dicirikan dengan ketidakmampuan melakukan tugas sederhana, hiperaktif, dan impulsif.

Peserta uji klinis memliki kisaran intelligent quotient (IQ) 90–110. Seluruh peserta dibagi dalam dua kelompok, masing-masing terdiri dari 30 anak. Kelompok pertama diberi plasebo dan digunakan sebagai kontrol. Kelompok kedua diberi ramuan herbal mentat yang sudah dibentuk tablet. Mentat terdiri dari 70 gr Centella asiatica, 136 mg  Bacopa monnieri, 52 mg Withania simnifera, 52 Evovulus alsinodes, 52 mg Nardostachys jatamansi, 50 mgValeriana wallichii, 50 mg Embelia ribes, 50 mg Prunus amiygdalus, 36 mg Tinospora cordifolia, 36 mg Terminalia chebula, 36 mg Emblica officinalis, 32 mg Oroxylum indicum, dan 32 mg Celastrus paniculatus.

Baik plasebo maupun mentat diberikan dengan dosis 2 tablet per hari. Penelitian dilakukan selama 6 bulan. Setiap 2 bulan sekali kemajuan peserta uji klinis dipantau. Pada 4 bulan pertama, kelompok II menunjukkan peningkatan konsentrasi, dibandingkan kelompok I. Gerak motorik kelompok II juga lebih terkontrol dibandingkan kelompok I. Hasil akhir setelah 6 bulan menunjukkan kelompok yang diberi mentat mengalami kemajuan pesat.

Penelitian serupa juga dilakukan oleh B. Sathya dan R. Uthaya Ganga, dari Govt. Siddha Medical College, Palayamkottai, India. Mereka menguji khasiat serbuk pegagan terhadap IQ anak. Hasilnya, serbuk tanaman merambat itu terbukti dapat meningkatkan intelegensia. Limabelas anak yang mengal

ami hambatan mental diberi 500 mg serbuk pegagan selama 1 bulan. Hasilnya, IQ meningkat sampai 4,6%. Semua anak yang mengikuti uji klinis juga lebih berkonsentrasi.

Selain itu, anak yang berperilaku pasif, pemalu, dan gelisah, berubah menjadi periang, komunikatif, dan kooperatif. Itulah khasiat dari zat asiaticosida yang terdapat dalam pegagan. Senyawa golongan triterpenoid itu mampu

meningkatkan daya ingat, konsentrasi, dan kewaspadaan. Cara kerjanya dengan melancarkan sirkulasi pasokan oksigen dan nutrisi sel ke otak. Selain itu, daun pegagan juga mengandung senyawa alkaloid yang dapat memberikan energi bagi otak.

Multikhasiat

Pegagan pun ampuh menggempur penyakit lepra. Di India dan Madagaskar, gotu cola–nama pegagan di India–dijadikan salah satu ramuan leluhur untuk mengobati penyakit itu. Itu karena asiaticosida, selain bermanfaat untuk mengencerkan otak, juga mampu melemahkan bakteri lepra Mycrobacterium leprae dengan mengikis bagian berlilin dinding luarnya. Hasilnya, baksil itu dapat dengan mudah ditumpas oleh tubuh atau obat lain.

Angin surga pun berembus untuk para penderita tuberkulosis. Menurut Dr Anas Subarnas, dekan Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran, tanaman yang bersifat adaftif itu menghasilkan antibiotik yang aktif melawan baksil tuberkulosis. Hal itu dibuktikan oleh hasil penelitian Boeteau P. daru Tuberculosis Research Center di India. Senyawa aktif dalam pegagan mampu melawan Mycrobacterium tuberculosis. Ia menginokulasi bakteri tuberkulosis pada marmut selama 15 hari. Setelah itu, 0,5 ml asiaticosida diinejksikan ke tubuh marmut. Hasilnya, jumlah lesi tuberkular di paru-paru, hati, dan limpa berkurang.

Senyawa asiaticosida juga tidak hanya mampu menghambat pertumbuhan bakteri tuberkulosis, tapi juga berpotensi sebagai imunomodulator alias peningkat daya tahan tubuh. Hal itu dibuktikan oleh Yellia Mangan, herbalis di Kalibata, Jakarta Selatan. Saat staminanya anjlok, Yelia menyeduh sesendok pegangan kering dengan 3 irisan jahe merah dan madu. Racikan itu dinikmati tiap pagi atau sore. Racikan itu dinikmati tiap pagi atau sore. Bila rutin dikonsumsi tubuh jadi kembali bugar. Namun, jangan meminum ramuan menjelang tidur. Sebab, tanaman

yang bisa diperbanyak dengan stolon itu bersifat diuretik sehingga Anda mesti beberapa kali ke kamar mandi untuk berurine. Perihal pegagan sebagai diuretik sudah dibuktikan oleh Malawati Salim, seperti yang dikutip oleh Pudjawati dkk, peneliti dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan dalam Warta Tumbuhan Obat Indonesia. Ia meneliti pengeluaran air kemih anjing yang diberi rebusan daun pegagan berkonsentrasi 0,5%, 5%, dan 10% sebanyak 1 mg kg/bb.

Air rebusan disuntikkan ke dalam pembuluh vena di paha anjing. Jumlah air kemih yang keluar diukur setiap 15 menit selama 90 menit kemudian dibandingkan dengan kontrol. Hasilnya makin besar dosis yang diberikan, semakin besar pengaruh terhadap pengeluaran air kemih. Karena itu, pantaslah pegagan ditahbiskan sebagai herbamultikhasiat. Ia bisa melumpuhkan sederet penyakit. Namun, meskipun khasiatnya banyak, konsumsi berlebih juga membahayakan, karena bisa menyebabkan sakit kepala, vertigo, bahkan koma.

Beragam

Sosok pegagan memang sangat akrab dengan masyarakat Indonesia. Tanaman merambat itu lazim dimakan sebagai lalapan. Rasanya cukup lezat, walaupun agak pahit seperti peterseli. Karena tersebar di berbagai daerah, maka sebutan untuknya pun beragam. Perbedaan bukan hanya pada penyebutan saja, bentuk pegagan di tiap daerah juga berbeda-beda. Hal itu dibuktikan oleh Dr Ir Nurliani Bermawie, peneliti pegagan di Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik (Balittro), Cimanggu, Bogor.

Sejak 2000 peneliti yang akrab dipanggil Yeni itu mengumpulkan 35 pegagan dari berbagai daerah, seperti Sumatera Utara, Jawa Barat, Bali, sampai Papua. Walaupun berada dalam satu spesies ternyata keragaman daun sepak kuda itu sangat banyak. “Itulah yang dinamakan aksesi,” kata Yeni. Aksesi adalah keragaman genetik dalam satu spesies yang sama.

Tanaman yang biasa jadi tumbuhan pengganggu itu memiliki daya adaptasi yang sangat bagus. Buktinya, Yeni menemukan button grass–sebutan pegagan di negara barat–dari mulai dataran rendah sampai pegunungan. Walaupun lebih banyak ditemukan di daerah bertanah subur, tapi ada juga yang tumbuh di antara bebatuan. Perbedaan lokasi tumbuh itulah yang menyebabkan keragaman genetik pada pegagan. Ujung-ujungnya tampilan fisiknya pun jadi beragam.

Perbedaan paling mudah dilihat dari bentuk dan ukuran daun. Pegagan yang hidup di dataran tinggi umumnya memiliki daun yang lebar dan tipis. Sedangkan yang tumbuh di dataran rendah relatif lebih kekar, ukuran daun lebih kecil api tebal. Perbedaan itu disebabkan oleh berbedanya tingkat intensitas sinar matahari. Di dataran tinggi, intensitas matahari rendah, akibatnya daun terbentuk lebih lebar dan tipis. Batang juga lebih panjang. “Persis daun yang terkena etiolasi,” kata doktor alumnus University of Reading, Inggris itu.

Dari 35 aksesi, Yeni baru meneliti 16. “Dari 16, terpilih 6 aksesi yang mutunya dinilai baik,” tambahnya. Saat ini, ke-6 aksesi itu tengah diuji multilokasi di Cimanggu, Sukabumi, Bandung, Cipanas, dan Cibinong. Dari hasil uji multilokasi diharapkan terpilih satu aksesi yang bermutu baik sehingga bisa dilepas sebagai varietas unggul. Kualitas dinilai dari kadar asiaticosida, jumlah biomassa basah, dan kering. Yang diharapkan pegagan berkadar asiaticosida minimal 0,6%. “Sesuai persyaratan dari badan POM,” papar

kelahiran Banjarmasin itu.

Selama ini masyarakat mengenal pegagan dan pegagan utan, Merremia emarginata. Keduanya sama-sama berkhasiat obat. Pegagan utan atau pegagan kuning sosoknya memang mirip dengan pegagan. yang menjadi pembedanya adalah warna bunga. Bunga yang muncul di ketiak daun pegagan berwarna ungu, sedangkan pegagan kuning–seperti warnanya–bunganya berwarna kuning dengan ujung memucat. Reputasinya sebagai tanaman penggangu seringkali dipandang sebelah mata. Namun, kini boleh jadi gulma itu dicari banyak orang. (Lani Marliani/Peliput: A. Arie Raharjo)

Source: Trubus Edisi Khusus Agustus 2008 (hal 202)

 

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.