Kumpulan Herbal Tradisional Indonesia

mari lebih arif dalam memanfaatkan kekayaan herbal Indonesia

Daun Purba Penggempur Batu June 8, 2010

Daun tin (Source: http://henriettesherbal.com)

Berurine dan bangun dari duduk adalah aktivitas yang menyiksa Tjawa Noor Cholis. Setiap kali bangkit usai duduk, ia merasakan nyeri pinggang bukan kepalang. Ketika berkemih penderitaan itu kembali terulang. “Sangat menyiksa,” ujarnya. Setelah rutin mengkonsumsi rebusan daun tin, penderitaan panjang sejak 2000 itu berakhir.

Beberapa koleganya mengatakan penyakit yang diidap Tjawa Noor Cholis kemungkinan kencing batu. Keruan saja kepala sekolah di Karawang, Jawa Barat, itu gelisah. Oleh karena itu ia bergegas ke dokter. Hasil diagnosis ahli medis itu menunjukkan Tjawa memang positif mengidap batu ginjal. Dokter yang menanganinya menyarankan agar Tjawa menjalani operasi. Namun, anjuran itu ditolak. “Saya takut menjalani operasi. Kalau bisa pakai herbal saja,” katanya.

Pria 60 tahun itu memilih herbal untuk mengatasi gangguan kesehatan itu. Ia mengkonsumsi rebusan daun kumis kucing, keji beling, dan akar alang-alang. Ia menyaring rebusan itu dan meminumnya 3 kali sehari masing-masing segelas. Sayang, kesembuhan yang diharapkan belum tercapai meski telah mengkonsumsi rebusan herbal itu selama 1 bulan. Mungkin lantaran singkatnya waktu mengkonsumsi sehingga efek herbal kurang signifikan.

Diuretik

Karena tak kunjung sembuh ia tetap mengunjungi dokter untuk mendapat suntikan di pinggang. Usai mendapat suntikan, nyeri memang hilang. Namun, cuma sesaat. Beberapa hari berselang nyeri kembali meradang. Begitu terus berulang-ulang. Pada 2002 ia merasakan nyeri pinggang dan bagian bawah perut ketika tak mampu berkemih. Saat itulah tetangganya menyodorkan hasil rebusan daun tin. Ia tanpa berpikir panjang dan langsung mengkonsumsinya. Tetangganya mendapatkan minuman itu dari kerabat yang bekerja di Jeddah, Arab Saudi.

Tjawa meminum habis sebotol rebusan daun tin bervolume 600 ml. Keesokan harinya, ia merasakan sesuatu keluar bersama urinenya. Ia mengambil benda seukuran biji pepaya itu, ternyata sebuah baru bergerigi dan berwarna kelabu. Ketika batu itu keluar, Tjawa merasakan sakit luar biasa. Namun, setelah itu ia lancar berurine dan nyeri di pinggang berkurang.

Menurut dr Ahmad Bi Utomo, Sp.BU, direktur Rumah Sakit Umum Islam Kustati Solo, agar batu ginjal dapat keluar bersama urine maka ukuran batu tidak lebih besar daripada saluran kencing, kira-kira berdiameter 0,4–0,5 cm. Dokter spesialis bedah urologi alumnus Universitas Airlangga itu menuturkan proses pengeluaran batu dapat dibantu dengan menggunakan obat-obatan yang bersifat diuretik alias peluruh urine.

Sejak merasakan khasiat daun tin Ficus carica, keponakan Tjawa, Wawan Syarief, memburu bibit tanaman purba itu dan membudidayakannya. Wawan rutin membawakannya beberapa lembar daun tin setiap hari. Tak puas hanya dibawakan daunnya saja, Tjawa akhirnya menanam pohon tin di halaman rumah. Kini pohon itu setinggi 1,5 cm dan tumbuh subur. Tjawa semakin mudah memperoleh daun tin untuk mengatasi batu ginjal.

Untuk membuat ramuan, Tjawa memetik tujuh lembar daun tin berumur sedang. Teksturnya kasar. Setelah mencucinya, pria kelahiran Karawang, 17 Oktober 1948 itu merebusnya dalam tiga gelas air sampai mendidih dan tersisa dua gelas. Rebusan itulah yang diminum Tjawa 2 kali sehari, pagi setelah bangun tidur dan malam sebelum tidur. Rasanya tawar dan tidak beraroma. “Setelah kerja berat, minum rebusan daun tin jadi segar,” ujar Tjawa.

Pada 2005 batu ginjalnya kembali keluar. Sejak rutin mengkonsumsi rebusan daun tin, Tjawa bisa merasakan batu turun dari pinggang kanan dan kiri. Ukurannya lebih kecil ketimbang batu yang keluar 3 tahun sebelumnya. “Dulu tak bisa kencing, rasanya sakit sekali. Tidur tidak nyaman dan duduk lama-lama tidak enak. Sekarang sudah tak masalah lagi duduk lama-lama, kerja sampai jam 2 pagi pun kuat,” ujarnya.

Berdarah

Menurut dr Sidi Aritjaja, dokter sekaligus herbalis, di Yogyakarta, pemicu batu ginjal adalah konsumsi makanan atau minuman yang bersifat asam dan infeksi saluran kencing. Calculi alias batu adalah kristal keras kecil yang menggumpal di dalam cairan tubuh, seperti air kemih. Batu mengendap dalam ginjal dan saluran kemih. Jika batu keluar melalui saluran kemih, menimbulkan rasa sakit luar biasa. Bila dipaksakan bisa melukai saluran kemih sehingga urine berdarah.

Cara termudah untuk mencegahnya adalah dengan banyak minum air putih. Garam-garam pembentuk batu ginjal bisa terkikis dan tidak terjadi pengendapan sehingga garam bisa terbawa bersama urine. “Jangan hanya minum saat kita merasa haus. Haus sebenarnya tanda bahwa tubuh kita sudah mengalami kekurangan cairan atau dehidrasi,” kata dokter alumnus Universitas Gadjah Mada itu.

Mengapa daun tin ampuh mengatasi batu ginjal? Menurut Sidi daun tin mengandung alkaloid dan saponin yang bermanfaat sebagai diuretik serta memperbaiki metabolisme protein dan lemak. Daun tanaman anggota famili Moraceae itu mengandung senyawa flavonoid terutama quercetin dan luteolin. Keduanya senyawa antiradang dan anti-oksidan. Khusu luteolin berkhasiat membantu proses metabolisme karbohidrat dan meningkatkan sistem imun.

Kandungan senyawa diuretik itulah yang membantu menggerus batu yang mengendap di saluran kemih dan ginjal sehingga terbawa saat berurine. Sedangkan senyawa antiradang mengurangi rasa nyeri. Pantas nyeri pinggang yang dirasakan Tjawa berkurang setelah rutin mengkonsumsi rebusan daun tin. Selain mengobati kencing batu, daun tin bisa memberikan kebugaran seperti yang dialami Tjawa. (Ari Chaidir)

 

Perkasa Karena Purwoceng June 4, 2010

Purwoceng (Source: http://trubus-online.co.id)

Daun dan batang purwoceng terbukti meningkatkan kadar testosteron sekaligus libido. Ratusan tahun silam nenek moyang kita sudah menggunakannya sebagai afrodisiak dan mengembalikan energi setelah seharian bekerja.

Itu yang mendorong dr Taufik R Nasihun Sp And di Semarang, Jawa Tengah membuktikannya. Dokter spesialis andrologi itu menguji purwoceng secara praklinis dengan jasa tikus putih Sprangue dawley. Taufik mengelompokkan satwa pengerat itu dalam 6 grup masing-masing 10 ekor. Mereka adalah tikus jantan, tengah pubertas, dan dewasa–berumur 90 hari. “Saat itu hormon testosteron sedang tinggi-tingginya,” kata dosen Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sultan Agung Semarang itu.

Kelompok ke-1 hingga ke-6 berturut-turut diberi larutan 2 ml akuades, 25 mg purwoceng, 50 mg purwoceng, 25 mg pasak bumi, 50 mg pasak bumi, dan 25 mg purwoceng dan pasak bumi. Pasak bumi Eurycoma longifolia juga merupakan afrodisiak alias perangsang daya seksual. Taufik memberikan minuman itu setiap hari selama sepekan secara oral.

Tinggi testosteron

Hasil uji praklinis itu, testosteron tikus yang diberi 50 mg purwoceng meningkat paling tinggi: 125%. Testosteron adalah hormon steroid dari kelompok androgen. Organ penghasil testosteron adalah testis pada jantan dan indung telur pada betina. Testis memproduksi testosteron sepanjang hidup. Jantan dewasa menghasilkan testosteron 20 kali lebih banyak daripada betina dewasa. Produksi hormon itu diatur oleh kelenjar hipofisis.

Karena pengaruh hormon itulah kaum pria bersuara rendah, berotot gempal, dan tumbuh kumis. Testosteron penting untuk kesehatan baik bagi jantan maupun betina. Fungsinya antara lain meningkatkan libido, energi, fungsi imun, dan perlindungan. Selain meningkatkan testosteron hingga 125%, dosis 50 mgpurwoceng juga mendongkrak hormon luteinizing hingga 29,2%.

Luteinizing merupakan hormon yang diproduksi hipofisis anterior di otak. Perannya merangsang sel-sel dalam testis untuk memproduksi testosteron. “Itu berarti purwoceng memberikan efek langsung dan tak langsung sebagai afrodisiak,” kata Taufiq. Secara tak langsung berarti tanaman famili Apiaceae itu menjaga kaum pria awet muda sekaligus bervitalitas tinggi. Itulah idaman para pria.

Kelompok tikus yang diberi campuran 25 mg purwoceng-pasak bumi juga meningkat kadar testosteronnya hingga 196,3%. Namun, kadar hormon luteinzing hanya terkatrol 2,5%. Menurut dr Paulus Wahyudi Halim, herbalis di Tangerang, Provinsi Banten, kebugaran tubuh mempengaruhi aktivitas seksual. “Herbal dapat membantu aktivitas seksual itu selama gangguan pada tubuh bersifat temporer, bukan permanen,” ujar dokter alumnus Universitas Degli Studi Padova, Italia itu.

Mengapa kerabat pegagan itu tokcer meningkatkan testosteron? Pimpinella alpina mengandung sterol, furanokumarin bergapten, isobergapten, dan sphondin. Senyawa-senyawa aktif itu banyak terdapat di batang dan akar. Senyawa yang disebut pertama, dalam tubuh dikonversi menjadi testosteron. Sedangkan senyawa aktif lain merangsang susunan saraf pusat untuk memproduksi hormon luteinzing.

Klinis

Taufiq juga melakukan uji toksisitas purwoceng. Tanaman yang tumbuh di dataran tinggi itu relatif aman dikonsumsi. Penggunaan dosis setinggi-tingginya–mencapai 600 mg per hari–pada tikus selama 14 hari, tak menimbulkan efek samping. Setelah uji praklinis pada hewan percobaan, Taufiq juga melakukan uji klinis pada manusia. Ia memberikan larutan purwoceng kepada 40 responden berusia minimal 40 tahun.

Penelitian taufiq beserta sejawatnya Prof Dr dr Susilo Wibowo Sp And, guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro itu, membagi 40 pria usia di atas 40 tahun ke dalam 2 kelompok. Kelompok pertama merupakan plasebo yang mengkonsumsi kapsul kosong. Sedangkan kelompok kedua diberi kapsul ekstrak purwoceng berdosis 50 mg/hari selama 115 hari.

Hasil penelitian itu menunjukkan kelompok pria yang mengkonsumsi ekstrak purwoceng mengalami kenaikan kadar hormon luteinizing dan indeks androgen bebas, serta memperbaiki defisiensi androgen. Pria dewasa mempunyai indeks androgen bebas 30–150. Di bawah angka itu, terjadi defisiensi testosteron.

Temuan itu menggembirakan, terutama bagi para pria berusia 40–50 tahun. Mereka rentan amiltauson alias penurunan kadar testosteron antara lain lantaran polusi lingkungan yang bersifat estrogenik. Survei perusahaan obat kenamaan menyebutkan, lebih dari 20% pria Asia mengalami disfungsi ereksi. Penyebabnya antara lain ritme kerja yang cepat, konsumsi makanan siap saji, dan polusi.

Lina Mardiana, herbalis di Yogyakarta, meresepkan purwoceng untuk beragam pasien seperti disfungsi ereksi dan varikokel. Kepada pasien varikokel–varises pada kantong kemaluan–Lina meresepkan jahe merah, lada hitam, dan kayumanis. Menurut Lina bila rutin mengkonsumsi kapsul berbagan campuran itu pasien sembuh varikokel. Purwoceng tumbuh di dataran tinggi Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah, dan Pegunungan Pangrango, Jawa Barat.

Selain seduhan atau rebusan bahan segar, di pasaran juga terdapat produk purwoceng siap konsumsi. PT Jamu Jago misalnya, merilis Purwoceng Plus dalam bentuk serbuk, kapsul, dan cair. Pada produk cair, ramuan purwoceng dilarutkan dalam madu. Menurut Griyo Sujono, kepala Departemen Pemasaran PT Jamu Jago, penderita hipertensi sebaiknya tak terlalu banyak mengkonsumsi purwoceng karena dapat meningkatkan tekanan darah. (Andretha Helmina)

Source: Trubus Oktober 2008 (Hal: 122)

 

Rahasia Kunci Atasi Kanker June 3, 2010

Penampilannya persis anak-anak kunci yang disatukan. Itulah sebabnya ia disebut temukunci. Ibu-ibu mencampurkan temukunci ketika memasak sayur bayam untuk menetralisir purin. Purin penyebab asam urat pun hilang. Riset terakhir membuktikan anggota famili Zingiberaceae itu antikanker.

Temukunci antikanker? Begitulah riset Dr Sukardiman, Apt MS, peneliti di Fakultas Farmasi Universitas Airlangga, selama 7 tahun sejak 1999. Doktor farmasi itu menggunakan jasa mencit yang mengidap kanker akibat suntikan zat benzo(a)pirena, zat karsinogenik alias penyebab kanker. Sukardiman mengelompokkan mencit-mencit itu dalam 4 grup. Untuk mengatasinya, kelahiran Kebumen, Jawa Tengah, 9 Januari 1963 itu menjadikan kelompok I sebagai kontrol, pada kelompok ke-2 diberikan 20 mg/kg bobot tubuh isolat murni pinostrobin; kelompok ke-3 berdosis 40 mg per kg bobot tubuh; sedangkan kelompok ke-4 diberi senyawa antikanker.

Mencit kelompok 3 yang diberi pinostrobin menunjukkan sel kanker tak berkembang biak. Bahkan, perkembangannya terhambat sampai 80%. Artinya, anggota famili Zingiberaceae itu tokcer sebagai antikanker. Zat apa yang paling berperan melawan sel mematikan itu? Menurut Sukardiman, pinostrobin dalam temukunci ampuh melawan sel kanker. Cara kerjanya dengan menghambat pertumbuhan sel kanker.

Antioksidan

Keampuhan temukunci dalam mengatasi sel kanker dibuktikan melalui uji in vitro. Dengan konsentrasi 100mikromolar, flavonoid itu menghambat pertumbuhan sel kanker leukimia. Atas dasar pengujian itu, diyakini pinostrobin sebagai zat anitkanker dalam temukunci. Ia merusak sel kanker sekaligus mendorong proses bunuh diri. Dalam istilah kedokteran, cara kerja itu disebut apoptosis. “Kesaktian” sel kanker yang tak pernah mati akhirnya hilang.

Pinostrobin merupakan senyawa antioksidan. Perannya sebagai penangkal zat radikal bebas penyebab kanker. Radikal bebas adalah molekul, atom, atau grup atom yang tidak berpasangan. Ia berbahaya jika jumlahnya lebih banyak dibandingkan senyawa antioksidan dalam tubuh. Akibatnya, radikal bebas yang bersifat elektrofil menyerang tubuh dan merusak DNA, sehingga kanker mudah menyerang. Agar ketahanan tubuh kuat, sistem ketahanan tubuh harus dijaga.

Menurut Dr Suprapto Ma’at dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, fungsi sistem imun adalah pertahanan. Ia sebagai penjaga keseimbangan komponen tubuh dengan membersihkan sel-sel mati. Fungsi lain, sistem imun meronda ke seluruh bagian tubuh. Jika ditemukan sel tubuh yang mutasi–memicu kanker–sistem imun akan membinasakannya. “Sistem imun melindungi tubuh dari bahaya radikal bebas dalam tubuh,” katanya.

Selain itu pinostrobin juga mampu menghambat kerja enzim topoisomerase I. “Biasanya pada penderita kanker, aktivitas enzim itu meningkat,” katanya. Dampaknya topoisomerase meningkat jumlahnya. Peningkatan itu akibat tingginya aktivitas transkripsi dan translasi DNA. Transkripsi perubahan DNA menjadi messenger ribo nucleic acid (mRNA), pembawa kode genetik. Translasi adalah penggabungan asam amino dalam DNA.

Berkat pinostrobin itulah penambahan jumlah topoisomerase I dihambat. Caranya dengan menghambat transkripsi DNA. Sedangkan aktivitas kerja enzim dihambat dengan cara mengeluarkan zat yang akan mengikat enzim. Akibatnya, sel kanker mati. Dengan demikian rutin meminum temu kunci tokcer mengatasi kanker. Bagi konsumen sehat, kebiasaan meminum rebusan kerabat jahe itu mujarab mencegah serangan kanker.

Cegah

Selain mengandung pinostrobin, temukunci juga kaya minyak asiri. “Dalam tiap rimpang berumur 9 bulan rata-rata terkandung 1,2% minyak asiri,” kata Sukardiman. Komponen utamanya terdiri dari monoterpen, seskuiterpen, dan turunan fenilpropana antara lainL geranial, neral, kamfora, zingiberen, d-pinen, kamfen, d-borneol, geraniol, osimen, serta miristin. Menurut Prof Sidik, guru besar Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran, khasiat minyak asiri pada temukunci serupa dengan kerabatnya temulawak dan kunyit.

“Kandungan asiri pada ketiganya terbukti memiliki banyak manfaat,” kata Sidik. Riset Prof Dr Yahya Kisyanto dan Dr Nyoman Kertia membuktikannya. Xanthorrizol, senyawa aktif dalam temulawak memang terbukti sebagai antikanker. Sayang, penelitian temukunci belum sampai pada tahap uji klinis. Jadi, dosis bagi manusia belum diketahui.

Yang paling penting, gunakan rimpang temukunci berumur 9 bulan. Jika masa panen terlewat hingga 4 bulan–rimpang tetap dalam tanah–menyebabkan zat berkhasiat hilang. Rimpang temukunci terdiri dari umbi induk yang membulat dan rimpang-rimpang kecil bagai anak kunci. Kedua jenis rimpang itu berkhasiat obat. Setelah bersih, iris rimpang Kaempferia panduratum tipis-tipis, rebus dalam 2 gelas air hingga mendidih dan tersisa segelas. Ramuan itulah yang rutin dikonsumsi untuk mencegah atau atasi kanker. (Lani Marliani/Peliput: Lastioro Anmi Tambunan)

Source: Trubus April 2008 (Hal: 122)

 

Bukan Menanam Tebu di Bibir June 2, 2010

Kelapa bahan baku VCO (Source: http://napisture.blogspot.com)

“Penelitian VCO (virgin coconut oil atau minyak kelapa murni, red) memang banyak, tetapi di luar negeri. VCO yang biasa digunakan di Eropa belum tentu cocok untuk orang Indonesia “Sehingga kita harus hati-hati,” ujar dr H Arijanto Jonosewjo SpPD, ketua Perhimpunan Peneliti Bahan Obat Alami.

Peringatan dr H Arijanto Jonosewjo SpPD, dosen Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, tak berlebihan. Sebab, kadang-kadang jenis penyakit berhubungan dengan genetika. Oleh karena itu riset amat penting.

Seperti menjawab harapan Arijanto, Dr Joko Sulistyo MAgr, periset Pusat Penelitian Biologi, meriset khasiat VCO. Riset in vitro dan in vivo itu dilakukan bersama koleganya Ir Rita Dwi Rahayu dan 2 periset Balai Penelitian Veteriner (Balitvet), Dra Masniari Poeloengan MS dan Drh Andriani MSi.

Mereka memanfaatkan 160 mencit berumur 2–3 bulan berbobot rata-rata 20 g. Satwa pengerat itu dikelompokkan dalam 8 grup masing-masing 20 ekor. Kelompok I grup kontrol tidak diberi VCO tapi aquades. Grup II dan grup III masing-masing diberi VCO berdosis 50mikroliter dan 500 mikroliter; IV, diberi minyak bunga matahari 500 mikroliter. Dosis tertinggi yang masih dapat dikonsumsi mencit 500 mikroliter. Lebih dari itu, mencit muntah.

Pemberian VCO pada kelompok I–IV selama 8 hari. Sedangkan kelompok V diinfeksi bakteri Eschericia coli selama 3 hari dan diberi VCO 50 mikroliter selama 5 hari. Kelompok VI diberi campuran Eschericia coli dan VCO 50 mikroliter selama 3 hari dan VCO 5 hari berturut-turut. Grup VII diinfeksi Eschericia coli selama 3 hari dan VCO 500 mikroliter selama 5 hari; VIII bersama-sama diberi campuran bakteri berbentuk batang itu dan 500 mikroliter VCO selama 3 hari dan VCO 5 hari. Pada semua kempok yang diinfeksi bakteri, jumlahnya 1.000.000.000 sel. Menurut Dr Ahkam Subroto, periset Pusat Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi, dosis 500 mikroliter jika dikonversi ke manusia mencapai 75 ml. Itu hampir setara dengan 6 kali dosis anjuran.

Turun

Mencit sukarelawan itu diamati selama 28 hari. Pada hari ke-7 mencit kelompok I–IV mengalami peningkatan bobot tubuh. Pemberian minyak bunga matahari 500 mikroliter menyebabkan peningkatan bobot tubuh lebih besar bila dibandingkan dengan pemberian VCO dosis sama. “Itu menungjukkan VCO berbeda dengan minyak sayur lain yang dapat meningkatkan bobot tubuh dalam waktu singkat,” ujar Joko.

Ketimbang kelompok kontrol, grup V dan VII yang diinfeksi E coli mengalami penurunan bobot tubuh yang signifikan. Infeksi E coli menyebabkan mencit sakit. VCO yang diberikan setelah infeksi, tak mampu mengatrol bobot tubuh. Minyak perawan itu digunakan untuk memperbaiki metabolisme tubuh. Bandingkan dengan grup VI dan VIII yang diinfeksi bakteri dan dibarengi pemberian VCO, bobot tubuh meningkat.

“Saat terjadi infeksi, VCO telah masuk ke tubuh mencit sehingga membantu mencit melawan infeksi,” kata Joko. Dari uji praklinis itu Joko menyimpulkan, pemberian VCO selebum infeksi lebih efektif ketimbang setelah infeksi. Namun, pada uji in vitro VCO kurang efektif sebagai antibakteri. Itu tampak dengan tak terbentuknya daerah hambat pertumbuhan bakteri di sekitar kertas cakram yang direndam dalam VCO.

Fakta itu menunjukkan VCO berfungsi sebagai antibakteri setelah dikonsumsi. Sang perawan dimetabolisme oleh hati menjadi monolaurin. “Kemungkinan lain, sensitivitas strain E coli resisten terhadap beberapa jenis antibiotik,” ujar doktor Enzimologi alumnus University of Tsukuba. Selain itu Joko dan rekan juga mengukur kadar gula darah, kolesterol, High Density Lipoprotein (HDL), Low Density Lipoprotein (LDL), dan trigliserida kelompok I–IV pada hari ke 0, 13, dan 28.

Kelompok lain tak diperiksa serum darah lantaran terbatasnya darah mencit, cuman 0,3 ml; yang dibutuhkan minimal 1 ml. Pemberian 50 mikroliter dan 500 mikroliter VCO pada kelompok II dan III menurunkan kadar gula darah 5,33 mg/dl dan 0,33 mg/dl pada hari ke-13. Dosis 50 mikroliter menyebabkan penurunan kadar gula darah lebih banyak ketimbang dosis 500 mikroliter.

Kadar kolesterol mencit yang diberi VCO 50 mikroliter baru turun 9 mg/dl pada hari ke-28. Penurunan tercepat pada hari ke-13 dicapai oleh kelompok III. Melorotnya kolesterol itu juga diimbangi oleh naiknya HDL–dikenal sebagai kolesterol baik–pada kelompok II dan III pada hari ke-13. Itu amat menggembirakan lantaran memperkecil risiko beragam penyakit seperti serangan jantung dan arteriosklerosis.

Pakar VCO Bruce Fife dalam sebuah seminar di Jakarta mengatakan, “HDL tinggi untuk melindungi serangan jantung.” Risiko munculnya penyakit akibat kolesterol dihitung berdasar rasio, bukan semata-mata karena tingginya kolesterol. Bruce menuturkan rasio itu diperoleh dengan membagi total kolesterol dan HDL. Jika nilai 5,0 mg/dl normal; 3,2 mg/dl berisiko rendah; dan 5,1 mg/dl berisiko tinggi.

Pemberian dosis rendah 50 mikroliter hasil terbaik lebih lama ketimbang yang dicapai dosis tinggi 500 mikroliter. Selain itu VCO lebih baik ketimbang minyak bunga matahari. Organ hati, ginjal, lima, dan intestinal semua kelompok tak mengalami perubahan mencolok.

Menurut Ahkam, idealnya riset kolesterol minimal 3 bulan. Sebab, tikus sebagai hewan percobaan mesti diberi pakan tertentu seperti daging dan telur yang memicu meningkatkan kadar kolesterol. Terlepas dari masa riset itu Joko menemukan fakta, pemberian minyak bunga matahari mempercepat pembentukan vakuola lemak pada hati mencit ketimbang VCO.

Dibanding minyak bunga matahari, VCO terbukti lebih mumpuni mengatasi gula darah, kolesterol, dan bakteri patogen superliliput, ukuran 9,3–2 mikrometer. Kabar menggembirakan itu salah satu bukti dari klaim sang perawan yang selama ini didengungkan. Beragam faedah VCO itu memang bukan sekadar menanam tebu di bibir alias janji manis belaka. (Sardi Duryatmo)

Source: Trubus Oktober 2006 (Hal: 112)


 

Ramuan Antiflu Burung May 31, 2010

Kunyit (Source: Http://badanbugar.files.wordpress.com)

Hingga April 2007, 301 nyawa melayang akibat serangan virus flu burung. Di antara 12 negara yang terjangkit virus H5N1 itu, Indonesia menempati urutan teratas. Ramuan herbal membentengi serangan virus mematikan.

Saat ini hampir 130 tahun umur virus flu burung. Namun, obat-obatan mujarab untuk mengatasi atau mencegah serangannya belum ditemukan. Penyakit mematikan itu datang dengan isyarat demam tinggi lebih dari 38’C dan gejala influenza. Pada kasus lain, disertai diare, muntah, sakit dada, dan pendarahan hidung. Kondisi kesehatan anjlok hingga 10 hari berselang maut menjemput.

Untuk mengatasingnya, dokter meresepkan antiviral rasional. Tujuannya mempengaruhi siklus hidup virus atau zat penghadang reaksi imun berlebihan yang merusak jaringan tubuh. Itu alternatif terapi lantaran belum ada vaksin yang terbukti aman. Strategi terapi itu antara lain memakai zat-zat penghambat neuraminidase, penghambat TNF (tumor necrosis factor), penghambat haemagglutinin, antioksidan, dan penghambat M2.

Neuraminidase adalah protein yang ditemukan di permukaan beberapa virus. Ketika virus mengambang dalam tubuh lalu menabrak sel manusia, enzim mmotong karbohidrat pada sel. Proses itu melemahkan sel dan menyebabkannya pecah. Jika sel terinfeksi maka ia melepaskan lebih banyak virus. Obat yang digunakan sebagai penghambat yaitu oseltamivir dan zanamivir.

Menurut Dr Chairil Anwar Nidom, DMV, MSc, doktor bidang biologi molekuler Universitas Airlangga, oseltamivir–dijual dengan merek dagang Tamiflu–hanya efektif 48 jam pertama setelah infeksi. Imbasnya, pemberian oseltamivir berlangsung terus menerus. “Itu lantaran tidak diketahui kapan virus menyerang, gejala klinis mungkin tidak terlihat,” tutur Nidom.

Doktor yang meneliti virus H5N1 itu menyatakan lidah buaya Aloe vera berefek sama dengan oseltamivir. “Emodin dalam lidah buaya dapat meginaktifkan neuraminidase tidak aktif, kekuatan virus menginfeksi menurun. Namun, ia juga mengakui, untuk membuktikannya masih diperlukan penelitian mendalam.

Mutasi

H5N1 strain Indonesia cenderung tahan terhadap sitokin–zat antibodi alami dalam tubuh yang muncul akibat respon adanya benda asing. Virus influenza A umumnya memiliki 8 fragmen. Menurut Nidom, virus H5N1 yang berkembang di Indonesia mengalami mutasi pada fragmen NS 1. Mutasi terjadi pada asam amino No. 92. “Bagian yang seharusnya diisi aspartat malah diisi glutamat,” ujar Nidom. Akibatnya sitokin tidak peka terhadap virus.

Virus flu burung mampu membangkitkan hampir keseluruhan respon apoptosis–bunuh diri–dalam sistem imunitas tubuh manusia. Semakin banyak virus itu menggandakan diri, kian banyak pula sitokin. Sitokin merupakan protein yang memicu peningkatan respons imunitas dan berperan penting dalam peradangan yang diproduksi tubuh.

Perubahan struktur virus itu mempengaruhi mekanisme sistem imun. Sitokin muncul sebagai reaksi kekebalan tubuh ketika virus menyerang. Ketika virus masuk, tubuh bereaksi mengeluarkan zat antibodi, salah satunya sitokin–salah satu kelompok zat imun–yang diproduksi oleh sel-sel sistem imun. Karena terjadi mutasi, virus tidak dikenali oleh sitokin.

Terlanjur mendapat tanda adanya virus, sitokin tak berhenti muncul. Beberapa sitokin muncul membanjiri tubuh tanpa bisa dihentikan. Karena sitokin tidak mengenali sasaran, virus yang datang dianggap lalu. Jadi, virus tetap menyerang dalam tubuh sementara sitokin memperparah keadaan dengan menyerang inangnya sendiri. Peristiwa itu disebut badai sitokin,” tutur Nidom.

Meluapnya sitokin bagaikan bumerang bagi tubuh. Sitokin yang membanjiri aliran darah, karena virus yang bertambah banyak,  justru melukai jaringan-jaringan dalam tubuh. Kehadirannya yang berlebihan merusak organ dalam tubuh. Pada beberapa kasus, kondisi pasien flu burung diperparah dengan adanya banjir sitokin. Sitokin mengubah oksigen dalam paru-paru menjadi H2O2. Hidrogen peroksida itu merusak sel-sel organ paru-paru. Akibatnya timbul gejala klinis seperti sesak napas.

Menurut Lee dari The University of Hongkong, H5N1 memiliki tingkat kematian tinggi (30–70%) terkait dengan kemampuannya memproduksi TNF secara massal dan sitokin peradangan lainnya. TNF adalah sitokin yang dikeluarkan oleh sel darah putih selama infeksi dan membantu tubuh melawan organisme penyerbu. Dalam jumlah berlebih, TNF dan sitokin pro-peradangan berbalik menyerang tubuh.

Akibat gangguan pada jalur itu, TNF meningkat sehingga menyebabkan badai sitokin. Ada beberapa jalur metabolik yang meningkatkan level TNF dan hormon imun terkait, di antaranya MAPK p38. Zat kurkumin yang antara lain terkandung dalam rimpang kunyit dan jahe mampu menghambat MAPK p38 sehingga menekan pelepasan TNF pada sel yang terinfeksi. Penghambat TNF alami yang mempengaruhi jalur MAPK p38 antara lain kurkumin.

Kurkumin tidak hanya berfungsi saat tubuh kelebihan sitokin akibat adanya virus. Oleh karena itu, mengkonsumsi bahan makanan yang mengandung kurkumin disarankan sebagai tindakan pencegahan. “Kita tidak tahu kapan tubuh terinfeksi. Dengan mengkonsumsi kurkumin, tubuh diharapkan bisa menekan kelebihan sitokin saat virus masuk,” jelas Nidom. Karena pertumbuhan virus yang sangat cepat, konsumsi kurkumin sebaiknya sebagai pencegahan. Ketika virus bereplikasi, produksi sitokin terasang oleh tubuh. Produksi sitokin yang berlebihan dapat terjadi melalui beberapa jalur. Penyebabnya berbeda-beda antara lain faktor polutan dan stres.

Ketahanan Tubuh

Sarah kriswanti, herbalis di Bandung, Jawa Barat, berpendapat maraknya pasien flu burung pada awal musim hujan dipengaruhi oleh perubahan musim. “Pada masa pancaroba biasanya tubuh beradaptasi. Jika tubuh tidak fit akibat kelelahan, stres, proses adaptasi itu justru mengundang berbagai penyakit seperti flu dan batuk,” katanya.

Untuk mengatasinya, Sarah menyarankan untuk mengkonsumsi jahe merah. “Jahe berkhasiat meningkatkan kekebalan tubuh, melegakan tenggorokan, dan memperbaiki kinerja paru-paru,” ujar wanita berusia 60 tahun itu. Sekitar 50 g jahe merah segar–bilsa kering dosis separuhnya–1 sendok makan kapulaga india, kemukus, cengkih, kayu manis, dan adas manis direbus dalam 3,5 gelas air hingga tersisa 3 gelas. Untuk memperkaya rasa, tambahkan garam dan gula aren secukupnya sesuai selera. Ramuan diminum 3 kali sehari.

Jahe mengandung [6]-gingerol yang dapat menghadang TNF dengan mempengaruhi jalur MAPK p38. Khasiat itu dibuktikan melalui riset Kim dan rekan dari Fakultas Farmasi Seoul National University, Korea Selatan. Jahe juga meningkatkan kadar antioksidan tubuh. Menurut Murakami dari Divisi Teknologi Pangan dan Bioteknologi, Kyoto University, Jepang, jahe juga meningkatkan level enzim antioksidan, termasuk superoksida dismutase dan glutation peroksidase. Enzim itu bereaksi dengan peradangan yang ditimbulkan infeksi virus.

VCO

Sementara dr Zaenal Gani, dokter spesialis herbalis di Malang, Jawa Timur, menyarankan VCO untuk mengatasi flu burung. Minyak kelapa murni itu mengandung asam laurat yang di dalam tubuh berubah menjadi monolaurin. Monolaurin beinteraksi dengan virus. “Virus dirusak dan akhirnya mati,” tutur alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya itu.

Ia juga meramu tanaman obat untuk menjaga kekebalan tubuh. Ramuan bernama jogorogo itu terdiri dari 15 tanaman obat seperti meniran, brotowali, dan sambiloto. “Ketiganya berefek imunomodulator, mengendalikan daya tahan tubuh,” jelas Zaenal. Bisa juga dikombinasikan dengan VCO. Ahli akupuntur itu membuatnya ramuan dalam serbuk dan kemasan kapsul. Dosisnya 2 gram serbuk dilarutkan dalam segelas ait atau 3 kali sehari masing-masing 1 kapsul berisi 0,5 g.

Walau khasiat antiviral VCO terbukti mampu mengatasi beberapa penyakit yang disebabkan virus, belum ada riset sahih yang membuktikannya untuk mengatasi flu burung. Menurut Dr Andi Utama MSc, periset Pusat Penelitian Bioteknologi, perlu bukti ilmiah untuk obat atau ramuan itu yang mampu menyembuhkan penyakiy tertentu seperti flu burung. “Perlu dilakukan penelitian khusus untuk melihat efek tanaman obat tertentu,” ujar doktor lulusan Gifu University, Jepang itu.

Beberapa kandungan bahan alam yang berasal dari tanaman obat Indonesia diakui Andi berpotensi menghasilkan obat. Jika ada pencegahan alami, mengapa tidak? Sambil menunggu hasil penelitian para ahli, konsumsi herbal antiflu burung sebuah keputusan baik. (Kiki Rizkika/Peliput: Destika Cahyana, Imam Wiguna, Lani Marliani)

Souce: Trubus Gold Edtion (Hal 182)

 

Tumor Nasofaring Lenyap dalam Sebulan May 27, 2010

tapakdara (source: http://jepretanhape.wordpress.com)

Benjolan sebesar melinjo di leher kanan dibiarkan begitu saja oleh Alex. Ia tak mengobatinya lantaran benjolan itu tak mengganggu aktivitas. Namun, 6 bulan berselang, benjolan yang sama muncul di leher kiri. Pada saat bersamaan Alex kerap sakit kepala.

Jika sakit kepala kambuh, Alex merasa limbung. “Saking beratnya kepala,” ujar pria 51 tahun itu. Alex mulai dibayangi perasaan waswas. Ia menemui dokter umum yang kemudian merujuknya ke spesialis THT (Telinga Hidung Tenggorokan). Serangkaian pemeriksaan dijalani. Selama menunggu hasil pemeriksaan, benjolan di leher semakin membesar. Saking besarnya, benjolan di kiri dan kanan seakan menyatu. “Seperti gondok. Leher juga sakit bila digerakkan, belum lagi rasa pegal seperti menyebar ke seluruh tubuh,” ujar Alex.

Enam bulan lamanya semenjak memeriksakan diri, akhirnya pada September 2006 Alex memperoleh jawaban. Ia menderita tumor nasofaring stadium 3 lanjut. Besar tumor di lehernya cukup besar, 12 cm x 5 cm di bagian kanan dan 10 cm x 7 cm di sebelah kiri.

Kemoterapi

Kondisi tumor stadium 3 membuat anjuran dokter untuk kemoterapi tidak dapat ditawar lagi. Ia menjalani kemoterapi sebulan sekali selama 3 bulan, dilanjutkan dengan penyinaran. Ukuran tumor yang besar memaksa dia menjalani penyinaran selama 48 kali berturut-turut setiap hari.

Setelah 20 kali penyinaran, tumor mulai kempes dan hilang. Begitu pula sakit kepala yang kerap ia rasakan. Namun, untuk mencegah sisa tumor tertinggal, penyinaran tetap dilakukan sampai 48 kali.

Sayangnya efek samping kemoterapi dan penyinaran terasa lebih berat daripada gejala penyakitnya. “Saya nggak bisa makan, susah untuk  menelan,” kata Alex. Ia hanya bisa memakan bubur saring. Nafsu makannya hilang, tubuhnya makin kurus tergerus penyakit. Akibatnya, daya tahan tubuh melemah, ia mudah lelah. Belum lagi gejala sesak napas yang membuatnya sering terjaga di tengah malam. “Pokoknya tak nyenyak tidur,”  kata Alex.

Herbal

Usai penyinaran, benjolan di lehernya menghilang. Namun, penderitaan itu belum berakhir. Gejala tumor timbul lagi setelah 8 bulan berselang. “Benjolan kembali muncul di leher sebelah kiri,” ujar Alex. Kali ini dokter menyarankan operasi untuk mengatasi tumor sebesar 5 cm x 3 cm itu. Alex diberi waktu 2 pekan untuk memutuskan jadwal operasi.

Terbayang biaya besar di benak Alex. Biaya untuk kemoterapi saja Rp18-juta, penyinaran Rp10-juta. Belum lagi biaya rawat inap. Padahal, saat itu ia tidak lagi bekerja. “Saya ‘lelah’ kalau harus menjalani pengobatan seperti itu lagi,” ungkapnya. Selama 2 pekan itulah ia berusaha untuk mencari pengobatan alternatif dengan herbal. Kebetulan di toko tempat ia membeli ramuan ekstrak herbal ada konsultasi gratis dari sebuah produk herbal.

Mulailah ia mengkonsumsi ramuan ekstrak herbal untuk kanker yang terdiri dari temuputih dan tapakdara dalam sebuah kapsul. Ramuan ekstrak herbal lain untuk tumor berisi ekstrak benalu mangga, rambutan, dan jambu bol. Ramuan ekstrak herbal ketiga mengandung racikan kumis kucing, sambiloto, temulawak, meniran, dan pegagan. Ketiga kapsul ramuan itu rutin diasupnya masing-masing 3 kali sehari sebanyak 2 kapsul.

Hasilnya sungguh menggembirakan. Dalam waktu dua pekan, benjolan mulai mengecil. Janji memberikan keputusan operasi pun ditangguhkan. Dua pekan selanjutnya, benjolan menghilang. Nafsu makannya juga kembali normal ditandai bobot tubuh yang meningkat. Semenjak sakit, bobot tubuhnya susut hingga 15 kg. “Sekarang badan terasa segar dan bobot tubuh sudah bertambah 5 kg,” ujarnya senang.

Penghambat kanker

Menurut dr Johnny Sidhajatra, dokter sekaligus herbalis yang telah memformulasikan ramuan tersebut sejak 1976 di kawasan Pondok Cabe, Tangerang, tapakdara dan temuputih baik untuk mengobati kanker. “Efeknya menghambat pertumbuhan sel kanker,” ujar dokter lulusan Universitas Airlangga, Surabaya itu. Sifat menghambat sel kanker itu juga dimiliki benalu.

Senada dengan pendapat Yayuk Ambarwulan, herbalis di kawasan Bintaro Jaya, Tangerang. “Benalu berperan dalam menghambat peradangan dan pertumbuhan kanker,” katanya. Tapakdara juga membantu menghambat kanker. Sedangkan temuputih selain antikanker, ia pun bernilai plus untuk detoksifikasi.

Selain dua jenis kapsul ramuan ekstrak tanaman obat itu, Johnny juga memberikan tambahan kapsul berisi ramuan 5 tanaman obat untuk pasien yang mengalami gangguan sistem pencernaan seperti yang diasup Alex. “Jika sistem pencernaan baik, penyerapan obat pun optimal,” tutur dokter yang meresepkan herbal sejak 1976 itu.

Menurut Yayuk, ekstrak berbahan dasar kumis kucing, sambiloto, temulawak, meniran, dan pegagan itu membantu fungsi hati. “Termasuk untuk yang mengalami gangguan mag atau memiliki kebiasaan makan produk berpengawet,” tambahnya. Makanan berpengawet memicu munculnya sel tumor maupun kanker.

Khasiat tapakdara Catharanthus roseus juga diakui peneliti mancanegara. Riset Ely Lilly dari Western University, Ontario, Kanada, menunjukkan tapakdara mengandung senyawa antikanker vinblastin dan vinkristin. Kedua senyawa alkaloid itu mampu menghambat pembelahan sel pada tahap penyebaran sel kanker. Di Amerika, sejak 1984 Food and Drug Administration menyetujui vinkristin sebagai obat antikanker. Sedangkan efek antikanker temuputih lantaran kandungan senyawa curcumol dan curdione. Senyawa aktif itulah yang diduga mengatasi sel tumor nasofaring di leher Alex.

Walau benjolan itu sudah lenyap, sebulan sekali Alex tetap rutin memeriksakan diri ke dokter spesialis THT. “Sejauh ini tidak ada tanda-tanda mencurigakan tumor muncul lagi,” kata Alex. Semua berkat ramuan ekstrak herbal yang diasupnya. (Kiki Rizkika)

Source: Trubus Agustus 2007 (Rubrik obat tradisional, Hal: 60)

 

Pegagan: Gulma Makanan Otak May 26, 2010

Filed under: Herbal untuk otak — kembalikeherbal @ 1:31 am
Tags: , , , , ,

Pegagan (Source: http://herbal-creation.com)

Reputasinya sebagai tanaman pengganggu membuatnya kerap dipandang sebelah mata. Tak disangka ia berkhasiat obat. Minum air rebusannya mampu meningkatkan kecerdasan otak. Dialah pegagang, ginko biloba-nya Indonesia.

Sejak zaman Sansekerta, pegagan telah digunakan untuk mengobati berbagai penyakit, seperti gangguan kulit, syaraf, dan memperbaiki peredaran darah. Ribuan tahun berlalu, nama Centella asiatica itukian mencorong. Embel-embel asiatica di belakang nama genus mengindikasikan pegagan berasal dari Benua Asia. Sampai saat ini, daun kaki kuda itu masih dipercaya untuk mengobati berbagai penyakit. Tidak hanya di Asia, tapi sudah menjelajah ke Eropa bahkan Amerika.

Berbagai penelitian membuktikan khasiat pegagan sebagai panasea. Salah satu khasiat yang paling banyak diteliti adalah menyangkut kecerdasan. Maklum saja, sudah sejak lama ia dipercaya mampu meningkatkan kecerdasan otak. Penelitian terbaru di India bahkan membuktikan, keluarga Umbelliferae itu juga berguna bagi anak yang mengalami keterbelakangan mental.

Meningkatkan IQ

Penelitian yang dilakukan oleh Prof Veena Kalra, Hilna Zamir, Pandey RM, dan Kala Suhas Kulkarni, dari Research and Development Center, The Himalaya Drug Company, Makali, Bangalore, India itu bahkan sudah memasuki tahap uji klinis pada 2002 dilakukan pada 60 anak usia sekolah–umur 6–12 tahun–yang menderita Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD). ADHD adalah kelainan otak yang umum terjadi pada anak-anak, yang dicirikan dengan ketidakmampuan melakukan tugas sederhana, hiperaktif, dan impulsif.

Peserta uji klinis memliki kisaran intelligent quotient (IQ) 90–110. Seluruh peserta dibagi dalam dua kelompok, masing-masing terdiri dari 30 anak. Kelompok pertama diberi plasebo dan digunakan sebagai kontrol. Kelompok kedua diberi ramuan herbal mentat yang sudah dibentuk tablet. Mentat terdiri dari 70 gr Centella asiatica, 136 mg  Bacopa monnieri, 52 mg Withania simnifera, 52 Evovulus alsinodes, 52 mg Nardostachys jatamansi, 50 mgValeriana wallichii, 50 mg Embelia ribes, 50 mg Prunus amiygdalus, 36 mg Tinospora cordifolia, 36 mg Terminalia chebula, 36 mg Emblica officinalis, 32 mg Oroxylum indicum, dan 32 mg Celastrus paniculatus.

Baik plasebo maupun mentat diberikan dengan dosis 2 tablet per hari. Penelitian dilakukan selama 6 bulan. Setiap 2 bulan sekali kemajuan peserta uji klinis dipantau. Pada 4 bulan pertama, kelompok II menunjukkan peningkatan konsentrasi, dibandingkan kelompok I. Gerak motorik kelompok II juga lebih terkontrol dibandingkan kelompok I. Hasil akhir setelah 6 bulan menunjukkan kelompok yang diberi mentat mengalami kemajuan pesat.

Penelitian serupa juga dilakukan oleh B. Sathya dan R. Uthaya Ganga, dari Govt. Siddha Medical College, Palayamkottai, India. Mereka menguji khasiat serbuk pegagan terhadap IQ anak. Hasilnya, serbuk tanaman merambat itu terbukti dapat meningkatkan intelegensia. Limabelas anak yang mengal

ami hambatan mental diberi 500 mg serbuk pegagan selama 1 bulan. Hasilnya, IQ meningkat sampai 4,6%. Semua anak yang mengikuti uji klinis juga lebih berkonsentrasi.

Selain itu, anak yang berperilaku pasif, pemalu, dan gelisah, berubah menjadi periang, komunikatif, dan kooperatif. Itulah khasiat dari zat asiaticosida yang terdapat dalam pegagan. Senyawa golongan triterpenoid itu mampu

meningkatkan daya ingat, konsentrasi, dan kewaspadaan. Cara kerjanya dengan melancarkan sirkulasi pasokan oksigen dan nutrisi sel ke otak. Selain itu, daun pegagan juga mengandung senyawa alkaloid yang dapat memberikan energi bagi otak.

Multikhasiat

Pegagan pun ampuh menggempur penyakit lepra. Di India dan Madagaskar, gotu cola–nama pegagan di India–dijadikan salah satu ramuan leluhur untuk mengobati penyakit itu. Itu karena asiaticosida, selain bermanfaat untuk mengencerkan otak, juga mampu melemahkan bakteri lepra Mycrobacterium leprae dengan mengikis bagian berlilin dinding luarnya. Hasilnya, baksil itu dapat dengan mudah ditumpas oleh tubuh atau obat lain.

Angin surga pun berembus untuk para penderita tuberkulosis. Menurut Dr Anas Subarnas, dekan Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran, tanaman yang bersifat adaftif itu menghasilkan antibiotik yang aktif melawan baksil tuberkulosis. Hal itu dibuktikan oleh hasil penelitian Boeteau P. daru Tuberculosis Research Center di India. Senyawa aktif dalam pegagan mampu melawan Mycrobacterium tuberculosis. Ia menginokulasi bakteri tuberkulosis pada marmut selama 15 hari. Setelah itu, 0,5 ml asiaticosida diinejksikan ke tubuh marmut. Hasilnya, jumlah lesi tuberkular di paru-paru, hati, dan limpa berkurang.

Senyawa asiaticosida juga tidak hanya mampu menghambat pertumbuhan bakteri tuberkulosis, tapi juga berpotensi sebagai imunomodulator alias peningkat daya tahan tubuh. Hal itu dibuktikan oleh Yellia Mangan, herbalis di Kalibata, Jakarta Selatan. Saat staminanya anjlok, Yelia menyeduh sesendok pegangan kering dengan 3 irisan jahe merah dan madu. Racikan itu dinikmati tiap pagi atau sore. Racikan itu dinikmati tiap pagi atau sore. Bila rutin dikonsumsi tubuh jadi kembali bugar. Namun, jangan meminum ramuan menjelang tidur. Sebab, tanaman

yang bisa diperbanyak dengan stolon itu bersifat diuretik sehingga Anda mesti beberapa kali ke kamar mandi untuk berurine. Perihal pegagan sebagai diuretik sudah dibuktikan oleh Malawati Salim, seperti yang dikutip oleh Pudjawati dkk, peneliti dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan dalam Warta Tumbuhan Obat Indonesia. Ia meneliti pengeluaran air kemih anjing yang diberi rebusan daun pegagan berkonsentrasi 0,5%, 5%, dan 10% sebanyak 1 mg kg/bb.

Air rebusan disuntikkan ke dalam pembuluh vena di paha anjing. Jumlah air kemih yang keluar diukur setiap 15 menit selama 90 menit kemudian dibandingkan dengan kontrol. Hasilnya makin besar dosis yang diberikan, semakin besar pengaruh terhadap pengeluaran air kemih. Karena itu, pantaslah pegagan ditahbiskan sebagai herbamultikhasiat. Ia bisa melumpuhkan sederet penyakit. Namun, meskipun khasiatnya banyak, konsumsi berlebih juga membahayakan, karena bisa menyebabkan sakit kepala, vertigo, bahkan koma.

Beragam

Sosok pegagan memang sangat akrab dengan masyarakat Indonesia. Tanaman merambat itu lazim dimakan sebagai lalapan. Rasanya cukup lezat, walaupun agak pahit seperti peterseli. Karena tersebar di berbagai daerah, maka sebutan untuknya pun beragam. Perbedaan bukan hanya pada penyebutan saja, bentuk pegagan di tiap daerah juga berbeda-beda. Hal itu dibuktikan oleh Dr Ir Nurliani Bermawie, peneliti pegagan di Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik (Balittro), Cimanggu, Bogor.

Sejak 2000 peneliti yang akrab dipanggil Yeni itu mengumpulkan 35 pegagan dari berbagai daerah, seperti Sumatera Utara, Jawa Barat, Bali, sampai Papua. Walaupun berada dalam satu spesies ternyata keragaman daun sepak kuda itu sangat banyak. “Itulah yang dinamakan aksesi,” kata Yeni. Aksesi adalah keragaman genetik dalam satu spesies yang sama.

Tanaman yang biasa jadi tumbuhan pengganggu itu memiliki daya adaptasi yang sangat bagus. Buktinya, Yeni menemukan button grass–sebutan pegagan di negara barat–dari mulai dataran rendah sampai pegunungan. Walaupun lebih banyak ditemukan di daerah bertanah subur, tapi ada juga yang tumbuh di antara bebatuan. Perbedaan lokasi tumbuh itulah yang menyebabkan keragaman genetik pada pegagan. Ujung-ujungnya tampilan fisiknya pun jadi beragam.

Perbedaan paling mudah dilihat dari bentuk dan ukuran daun. Pegagan yang hidup di dataran tinggi umumnya memiliki daun yang lebar dan tipis. Sedangkan yang tumbuh di dataran rendah relatif lebih kekar, ukuran daun lebih kecil api tebal. Perbedaan itu disebabkan oleh berbedanya tingkat intensitas sinar matahari. Di dataran tinggi, intensitas matahari rendah, akibatnya daun terbentuk lebih lebar dan tipis. Batang juga lebih panjang. “Persis daun yang terkena etiolasi,” kata doktor alumnus University of Reading, Inggris itu.

Dari 35 aksesi, Yeni baru meneliti 16. “Dari 16, terpilih 6 aksesi yang mutunya dinilai baik,” tambahnya. Saat ini, ke-6 aksesi itu tengah diuji multilokasi di Cimanggu, Sukabumi, Bandung, Cipanas, dan Cibinong. Dari hasil uji multilokasi diharapkan terpilih satu aksesi yang bermutu baik sehingga bisa dilepas sebagai varietas unggul. Kualitas dinilai dari kadar asiaticosida, jumlah biomassa basah, dan kering. Yang diharapkan pegagan berkadar asiaticosida minimal 0,6%. “Sesuai persyaratan dari badan POM,” papar

kelahiran Banjarmasin itu.

Selama ini masyarakat mengenal pegagan dan pegagan utan, Merremia emarginata. Keduanya sama-sama berkhasiat obat. Pegagan utan atau pegagan kuning sosoknya memang mirip dengan pegagan. yang menjadi pembedanya adalah warna bunga. Bunga yang muncul di ketiak daun pegagan berwarna ungu, sedangkan pegagan kuning–seperti warnanya–bunganya berwarna kuning dengan ujung memucat. Reputasinya sebagai tanaman penggangu seringkali dipandang sebelah mata. Namun, kini boleh jadi gulma itu dicari banyak orang. (Lani Marliani/Peliput: A. Arie Raharjo)

Source: Trubus Edisi Khusus Agustus 2008 (hal 202)