Kumpulan Herbal Tradisional Indonesia

mari lebih arif dalam memanfaatkan kekayaan herbal Indonesia

Tumor Nasofaring Lenyap dalam Sebulan May 27, 2010

tapakdara (source: http://jepretanhape.wordpress.com)

Benjolan sebesar melinjo di leher kanan dibiarkan begitu saja oleh Alex. Ia tak mengobatinya lantaran benjolan itu tak mengganggu aktivitas. Namun, 6 bulan berselang, benjolan yang sama muncul di leher kiri. Pada saat bersamaan Alex kerap sakit kepala.

Jika sakit kepala kambuh, Alex merasa limbung. “Saking beratnya kepala,” ujar pria 51 tahun itu. Alex mulai dibayangi perasaan waswas. Ia menemui dokter umum yang kemudian merujuknya ke spesialis THT (Telinga Hidung Tenggorokan). Serangkaian pemeriksaan dijalani. Selama menunggu hasil pemeriksaan, benjolan di leher semakin membesar. Saking besarnya, benjolan di kiri dan kanan seakan menyatu. “Seperti gondok. Leher juga sakit bila digerakkan, belum lagi rasa pegal seperti menyebar ke seluruh tubuh,” ujar Alex.

Enam bulan lamanya semenjak memeriksakan diri, akhirnya pada September 2006 Alex memperoleh jawaban. Ia menderita tumor nasofaring stadium 3 lanjut. Besar tumor di lehernya cukup besar, 12 cm x 5 cm di bagian kanan dan 10 cm x 7 cm di sebelah kiri.

Kemoterapi

Kondisi tumor stadium 3 membuat anjuran dokter untuk kemoterapi tidak dapat ditawar lagi. Ia menjalani kemoterapi sebulan sekali selama 3 bulan, dilanjutkan dengan penyinaran. Ukuran tumor yang besar memaksa dia menjalani penyinaran selama 48 kali berturut-turut setiap hari.

Setelah 20 kali penyinaran, tumor mulai kempes dan hilang. Begitu pula sakit kepala yang kerap ia rasakan. Namun, untuk mencegah sisa tumor tertinggal, penyinaran tetap dilakukan sampai 48 kali.

Sayangnya efek samping kemoterapi dan penyinaran terasa lebih berat daripada gejala penyakitnya. “Saya nggak bisa makan, susah untuk  menelan,” kata Alex. Ia hanya bisa memakan bubur saring. Nafsu makannya hilang, tubuhnya makin kurus tergerus penyakit. Akibatnya, daya tahan tubuh melemah, ia mudah lelah. Belum lagi gejala sesak napas yang membuatnya sering terjaga di tengah malam. “Pokoknya tak nyenyak tidur,”  kata Alex.

Herbal

Usai penyinaran, benjolan di lehernya menghilang. Namun, penderitaan itu belum berakhir. Gejala tumor timbul lagi setelah 8 bulan berselang. “Benjolan kembali muncul di leher sebelah kiri,” ujar Alex. Kali ini dokter menyarankan operasi untuk mengatasi tumor sebesar 5 cm x 3 cm itu. Alex diberi waktu 2 pekan untuk memutuskan jadwal operasi.

Terbayang biaya besar di benak Alex. Biaya untuk kemoterapi saja Rp18-juta, penyinaran Rp10-juta. Belum lagi biaya rawat inap. Padahal, saat itu ia tidak lagi bekerja. “Saya ‘lelah’ kalau harus menjalani pengobatan seperti itu lagi,” ungkapnya. Selama 2 pekan itulah ia berusaha untuk mencari pengobatan alternatif dengan herbal. Kebetulan di toko tempat ia membeli ramuan ekstrak herbal ada konsultasi gratis dari sebuah produk herbal.

Mulailah ia mengkonsumsi ramuan ekstrak herbal untuk kanker yang terdiri dari temuputih dan tapakdara dalam sebuah kapsul. Ramuan ekstrak herbal lain untuk tumor berisi ekstrak benalu mangga, rambutan, dan jambu bol. Ramuan ekstrak herbal ketiga mengandung racikan kumis kucing, sambiloto, temulawak, meniran, dan pegagan. Ketiga kapsul ramuan itu rutin diasupnya masing-masing 3 kali sehari sebanyak 2 kapsul.

Hasilnya sungguh menggembirakan. Dalam waktu dua pekan, benjolan mulai mengecil. Janji memberikan keputusan operasi pun ditangguhkan. Dua pekan selanjutnya, benjolan menghilang. Nafsu makannya juga kembali normal ditandai bobot tubuh yang meningkat. Semenjak sakit, bobot tubuhnya susut hingga 15 kg. “Sekarang badan terasa segar dan bobot tubuh sudah bertambah 5 kg,” ujarnya senang.

Penghambat kanker

Menurut dr Johnny Sidhajatra, dokter sekaligus herbalis yang telah memformulasikan ramuan tersebut sejak 1976 di kawasan Pondok Cabe, Tangerang, tapakdara dan temuputih baik untuk mengobati kanker. “Efeknya menghambat pertumbuhan sel kanker,” ujar dokter lulusan Universitas Airlangga, Surabaya itu. Sifat menghambat sel kanker itu juga dimiliki benalu.

Senada dengan pendapat Yayuk Ambarwulan, herbalis di kawasan Bintaro Jaya, Tangerang. “Benalu berperan dalam menghambat peradangan dan pertumbuhan kanker,” katanya. Tapakdara juga membantu menghambat kanker. Sedangkan temuputih selain antikanker, ia pun bernilai plus untuk detoksifikasi.

Selain dua jenis kapsul ramuan ekstrak tanaman obat itu, Johnny juga memberikan tambahan kapsul berisi ramuan 5 tanaman obat untuk pasien yang mengalami gangguan sistem pencernaan seperti yang diasup Alex. “Jika sistem pencernaan baik, penyerapan obat pun optimal,” tutur dokter yang meresepkan herbal sejak 1976 itu.

Menurut Yayuk, ekstrak berbahan dasar kumis kucing, sambiloto, temulawak, meniran, dan pegagan itu membantu fungsi hati. “Termasuk untuk yang mengalami gangguan mag atau memiliki kebiasaan makan produk berpengawet,” tambahnya. Makanan berpengawet memicu munculnya sel tumor maupun kanker.

Khasiat tapakdara Catharanthus roseus juga diakui peneliti mancanegara. Riset Ely Lilly dari Western University, Ontario, Kanada, menunjukkan tapakdara mengandung senyawa antikanker vinblastin dan vinkristin. Kedua senyawa alkaloid itu mampu menghambat pembelahan sel pada tahap penyebaran sel kanker. Di Amerika, sejak 1984 Food and Drug Administration menyetujui vinkristin sebagai obat antikanker. Sedangkan efek antikanker temuputih lantaran kandungan senyawa curcumol dan curdione. Senyawa aktif itulah yang diduga mengatasi sel tumor nasofaring di leher Alex.

Walau benjolan itu sudah lenyap, sebulan sekali Alex tetap rutin memeriksakan diri ke dokter spesialis THT. “Sejauh ini tidak ada tanda-tanda mencurigakan tumor muncul lagi,” kata Alex. Semua berkat ramuan ekstrak herbal yang diasupnya. (Kiki Rizkika)

Source: Trubus Agustus 2007 (Rubrik obat tradisional, Hal: 60)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s