Kumpulan Herbal Tradisional Indonesia

mari lebih arif dalam memanfaatkan kekayaan herbal Indonesia

Ramuan Antiflu Burung May 31, 2010

Kunyit (Source: Http://badanbugar.files.wordpress.com)

Hingga April 2007, 301 nyawa melayang akibat serangan virus flu burung. Di antara 12 negara yang terjangkit virus H5N1 itu, Indonesia menempati urutan teratas. Ramuan herbal membentengi serangan virus mematikan.

Saat ini hampir 130 tahun umur virus flu burung. Namun, obat-obatan mujarab untuk mengatasi atau mencegah serangannya belum ditemukan. Penyakit mematikan itu datang dengan isyarat demam tinggi lebih dari 38’C dan gejala influenza. Pada kasus lain, disertai diare, muntah, sakit dada, dan pendarahan hidung. Kondisi kesehatan anjlok hingga 10 hari berselang maut menjemput.

Untuk mengatasingnya, dokter meresepkan antiviral rasional. Tujuannya mempengaruhi siklus hidup virus atau zat penghadang reaksi imun berlebihan yang merusak jaringan tubuh. Itu alternatif terapi lantaran belum ada vaksin yang terbukti aman. Strategi terapi itu antara lain memakai zat-zat penghambat neuraminidase, penghambat TNF (tumor necrosis factor), penghambat haemagglutinin, antioksidan, dan penghambat M2.

Neuraminidase adalah protein yang ditemukan di permukaan beberapa virus. Ketika virus mengambang dalam tubuh lalu menabrak sel manusia, enzim mmotong karbohidrat pada sel. Proses itu melemahkan sel dan menyebabkannya pecah. Jika sel terinfeksi maka ia melepaskan lebih banyak virus. Obat yang digunakan sebagai penghambat yaitu oseltamivir dan zanamivir.

Menurut Dr Chairil Anwar Nidom, DMV, MSc, doktor bidang biologi molekuler Universitas Airlangga, oseltamivir–dijual dengan merek dagang Tamiflu–hanya efektif 48 jam pertama setelah infeksi. Imbasnya, pemberian oseltamivir berlangsung terus menerus. “Itu lantaran tidak diketahui kapan virus menyerang, gejala klinis mungkin tidak terlihat,” tutur Nidom.

Doktor yang meneliti virus H5N1 itu menyatakan lidah buaya Aloe vera berefek sama dengan oseltamivir. “Emodin dalam lidah buaya dapat meginaktifkan neuraminidase tidak aktif, kekuatan virus menginfeksi menurun. Namun, ia juga mengakui, untuk membuktikannya masih diperlukan penelitian mendalam.

Mutasi

H5N1 strain Indonesia cenderung tahan terhadap sitokin–zat antibodi alami dalam tubuh yang muncul akibat respon adanya benda asing. Virus influenza A umumnya memiliki 8 fragmen. Menurut Nidom, virus H5N1 yang berkembang di Indonesia mengalami mutasi pada fragmen NS 1. Mutasi terjadi pada asam amino No. 92. “Bagian yang seharusnya diisi aspartat malah diisi glutamat,” ujar Nidom. Akibatnya sitokin tidak peka terhadap virus.

Virus flu burung mampu membangkitkan hampir keseluruhan respon apoptosis–bunuh diri–dalam sistem imunitas tubuh manusia. Semakin banyak virus itu menggandakan diri, kian banyak pula sitokin. Sitokin merupakan protein yang memicu peningkatan respons imunitas dan berperan penting dalam peradangan yang diproduksi tubuh.

Perubahan struktur virus itu mempengaruhi mekanisme sistem imun. Sitokin muncul sebagai reaksi kekebalan tubuh ketika virus menyerang. Ketika virus masuk, tubuh bereaksi mengeluarkan zat antibodi, salah satunya sitokin–salah satu kelompok zat imun–yang diproduksi oleh sel-sel sistem imun. Karena terjadi mutasi, virus tidak dikenali oleh sitokin.

Terlanjur mendapat tanda adanya virus, sitokin tak berhenti muncul. Beberapa sitokin muncul membanjiri tubuh tanpa bisa dihentikan. Karena sitokin tidak mengenali sasaran, virus yang datang dianggap lalu. Jadi, virus tetap menyerang dalam tubuh sementara sitokin memperparah keadaan dengan menyerang inangnya sendiri. Peristiwa itu disebut badai sitokin,” tutur Nidom.

Meluapnya sitokin bagaikan bumerang bagi tubuh. Sitokin yang membanjiri aliran darah, karena virus yang bertambah banyak,  justru melukai jaringan-jaringan dalam tubuh. Kehadirannya yang berlebihan merusak organ dalam tubuh. Pada beberapa kasus, kondisi pasien flu burung diperparah dengan adanya banjir sitokin. Sitokin mengubah oksigen dalam paru-paru menjadi H2O2. Hidrogen peroksida itu merusak sel-sel organ paru-paru. Akibatnya timbul gejala klinis seperti sesak napas.

Menurut Lee dari The University of Hongkong, H5N1 memiliki tingkat kematian tinggi (30–70%) terkait dengan kemampuannya memproduksi TNF secara massal dan sitokin peradangan lainnya. TNF adalah sitokin yang dikeluarkan oleh sel darah putih selama infeksi dan membantu tubuh melawan organisme penyerbu. Dalam jumlah berlebih, TNF dan sitokin pro-peradangan berbalik menyerang tubuh.

Akibat gangguan pada jalur itu, TNF meningkat sehingga menyebabkan badai sitokin. Ada beberapa jalur metabolik yang meningkatkan level TNF dan hormon imun terkait, di antaranya MAPK p38. Zat kurkumin yang antara lain terkandung dalam rimpang kunyit dan jahe mampu menghambat MAPK p38 sehingga menekan pelepasan TNF pada sel yang terinfeksi. Penghambat TNF alami yang mempengaruhi jalur MAPK p38 antara lain kurkumin.

Kurkumin tidak hanya berfungsi saat tubuh kelebihan sitokin akibat adanya virus. Oleh karena itu, mengkonsumsi bahan makanan yang mengandung kurkumin disarankan sebagai tindakan pencegahan. “Kita tidak tahu kapan tubuh terinfeksi. Dengan mengkonsumsi kurkumin, tubuh diharapkan bisa menekan kelebihan sitokin saat virus masuk,” jelas Nidom. Karena pertumbuhan virus yang sangat cepat, konsumsi kurkumin sebaiknya sebagai pencegahan. Ketika virus bereplikasi, produksi sitokin terasang oleh tubuh. Produksi sitokin yang berlebihan dapat terjadi melalui beberapa jalur. Penyebabnya berbeda-beda antara lain faktor polutan dan stres.

Ketahanan Tubuh

Sarah kriswanti, herbalis di Bandung, Jawa Barat, berpendapat maraknya pasien flu burung pada awal musim hujan dipengaruhi oleh perubahan musim. “Pada masa pancaroba biasanya tubuh beradaptasi. Jika tubuh tidak fit akibat kelelahan, stres, proses adaptasi itu justru mengundang berbagai penyakit seperti flu dan batuk,” katanya.

Untuk mengatasinya, Sarah menyarankan untuk mengkonsumsi jahe merah. “Jahe berkhasiat meningkatkan kekebalan tubuh, melegakan tenggorokan, dan memperbaiki kinerja paru-paru,” ujar wanita berusia 60 tahun itu. Sekitar 50 g jahe merah segar–bilsa kering dosis separuhnya–1 sendok makan kapulaga india, kemukus, cengkih, kayu manis, dan adas manis direbus dalam 3,5 gelas air hingga tersisa 3 gelas. Untuk memperkaya rasa, tambahkan garam dan gula aren secukupnya sesuai selera. Ramuan diminum 3 kali sehari.

Jahe mengandung [6]-gingerol yang dapat menghadang TNF dengan mempengaruhi jalur MAPK p38. Khasiat itu dibuktikan melalui riset Kim dan rekan dari Fakultas Farmasi Seoul National University, Korea Selatan. Jahe juga meningkatkan kadar antioksidan tubuh. Menurut Murakami dari Divisi Teknologi Pangan dan Bioteknologi, Kyoto University, Jepang, jahe juga meningkatkan level enzim antioksidan, termasuk superoksida dismutase dan glutation peroksidase. Enzim itu bereaksi dengan peradangan yang ditimbulkan infeksi virus.

VCO

Sementara dr Zaenal Gani, dokter spesialis herbalis di Malang, Jawa Timur, menyarankan VCO untuk mengatasi flu burung. Minyak kelapa murni itu mengandung asam laurat yang di dalam tubuh berubah menjadi monolaurin. Monolaurin beinteraksi dengan virus. “Virus dirusak dan akhirnya mati,” tutur alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya itu.

Ia juga meramu tanaman obat untuk menjaga kekebalan tubuh. Ramuan bernama jogorogo itu terdiri dari 15 tanaman obat seperti meniran, brotowali, dan sambiloto. “Ketiganya berefek imunomodulator, mengendalikan daya tahan tubuh,” jelas Zaenal. Bisa juga dikombinasikan dengan VCO. Ahli akupuntur itu membuatnya ramuan dalam serbuk dan kemasan kapsul. Dosisnya 2 gram serbuk dilarutkan dalam segelas ait atau 3 kali sehari masing-masing 1 kapsul berisi 0,5 g.

Walau khasiat antiviral VCO terbukti mampu mengatasi beberapa penyakit yang disebabkan virus, belum ada riset sahih yang membuktikannya untuk mengatasi flu burung. Menurut Dr Andi Utama MSc, periset Pusat Penelitian Bioteknologi, perlu bukti ilmiah untuk obat atau ramuan itu yang mampu menyembuhkan penyakiy tertentu seperti flu burung. “Perlu dilakukan penelitian khusus untuk melihat efek tanaman obat tertentu,” ujar doktor lulusan Gifu University, Jepang itu.

Beberapa kandungan bahan alam yang berasal dari tanaman obat Indonesia diakui Andi berpotensi menghasilkan obat. Jika ada pencegahan alami, mengapa tidak? Sambil menunggu hasil penelitian para ahli, konsumsi herbal antiflu burung sebuah keputusan baik. (Kiki Rizkika/Peliput: Destika Cahyana, Imam Wiguna, Lani Marliani)

Souce: Trubus Gold Edtion (Hal 182)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s